Orang Ambon Lagi Doyan Makan Tempe

Kamis, 4 Februari 2010 | 14:47 WIB

AMBON, KOMPAS.com – Kurangnya pasokan ikan di Ambon lantaran gelombang tinggi dan cuaca buruk yang masih melanda sebagian perairan Maluku mengakibatkan produksi tempe dan tahu meningkat karena bertambahnya konsumsi warga .

“Pasokan ikan berkurang membuat produksi tempe dan tahu meningkat lebih dari sepekan ini,” kata pengusaha tempe dan tahu di Desa Batu Merah, Ambon, Suyono, Kamis (4/2/2010).

Suyono mengatakan produksi sehari yang biasanya menggunakan bahan baku kacang kedelai sebanyak 600 kg, kini meningkat menjadi 700 kg. “Biasanya produksi per hari menggunakan kacang kedelai sebanyak 600 kg, tetapi sekarang meningkat menjadi 700 kg per hari,” katanya.

Senada dengan Suyono, pengusaha lainnya yakni Ny. Sukardi mengaku biasanya produksi tempe dan tahu meningkat kalau harga ikan di pasaran mahal.  Akan tetapi karena suaminya sedang mengunjungi salah satu kerabatnya di provinsi lain sehingga jumlah produksi tidak bertambah, sebab para pekerjanya keberatan mendapat tambahan kerja.

“Biasanya kalau ikan mahal produksi meningkat karena bapak (Sukardi, red) pasti turun tangan di pabrik bekerja bersama para karyawan. Namun sekarang tidak bisa karena mereka tidak ada yang membantu mengerjakan pekerjaan tambahan,” katanya.

Ny. Sukardi mengaku jumlah bahan baku kacang kedelai tetap sama seperti hari-hari biasa yakni 500 kg per hari, yakni 100 kg untuk memproduksi tempe dan 400 kg untuk menghasilkan  tempe. Sedangkan bila suaminya sedang ada di empat dan membantu para pekerjanya, jumlah produksi dipastikan meningkat hingga 700 kg per hari.

Seorang pembeli tempe dan tahu di Pasar Tradisonal Mardika, Taufiq mengaku membeli penganan khas Pulau Jawa tersebut tiga kali seminggu untuk menu makanannya, jika ikan sebagai lauk utama sedang murah. Namun kini hampir setiap hari dia membeli penganan tersebut karena harga  ikan mahal.

“Biasanya dengan Rp 20.000 sudah bisa membeli ikan untuk konsumsi sehari karena ada tempe dan tahu sebagai tambahan lauknya. Tetapi Rp 20.000 tidak mencukupi konsumsi sehari sehingga harus ditambah dengan tempe dan tahu yang semula hanya dikonsumsi tiga kali seminggu meningkat menjadi lima sampai enam kali seminggu,” katanya.

Taufik berharap pengusaha tempe dan tahu tidak menaikkan harga produknya seperti halnya harga ikan karena permintaan masyarakat meningkat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s